Pagi itu kami seakan disambut meriah oleh Prof. Dr. Goib Wiranto, Ketua Pusat Riset Elektronika di Badan Riset dan Inovasi Nasional dengan kalimat, “In front of young people, even the smallest idea will become great research material,” sambutnya di acara ISTEC 2026. Dengan mengusung tema: Elevating Innovation for A Sustainable Future, rangkaian acara yang digelar 4 hari, pada tanggal 7-10 Mei 2026 di Four Points by Sheraton Bali, Ungasan, itupun berlangsung.
Sebanyak enam orang, termasuk saya yang berperan sebagai pembimbing salah satu dari dua tim - dua laki-laki tangguh dan tiga wanita cerdas, kini tengah duduk di aula sebuah hotel terkemuka di Bali. Ini adalah hari kedelapan di bulan Mei tahun 2026, tepat sehari pascaperjalanan udara kami yang melelahkan dari Bandung. Seluruh anggota rombongan telah mendarat dan tiba dengan aman di hotel yang kami tuju.
Rombongan kami tentu ditemani oleh tim-tim dari sekolah dan negara lain. Berdasarakan press release yang saya terima dari salah satu panitia, poin-poin acara ini dapat dijabarkan seperti ini: (1) ISTEC 2026 kembali sukses diselenggarakan oleh Bandung Creative Society (BCS) dan telah memasuki tahun ke-7 penyelenggaraan. (2) ISTEC telah dikurasi oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Indonesia. (3) Final event berlangsung pada tanggal 7-10 Mei 2026 di Four Points by Sheraton Bali, Ungasan. (4) Diikuti oleh 125 tim dengan total 268 peserta. (5) Peserta berasal dari 14 negara: Bangladesh, Bosnia and Herzegovina, Burkina Faso, Cambodia, Egypt, India, Indonesia, Jordan, Malaysia, Pakistan, Philippines, Turkey, United States, dan Zimbabwe.
Terkejut. Tentu saja. Dari ulasan berita tersebut ternyata banyak sekali inovator muda yang berkumpul di audiotorium ini. Seluruh peserta punya semangat berjuang masing-masing. Persiapan menghias booth untuk area masing-masing pun menjadi ajang kompetensi tersendiri. Hidup adalah riwayat keputusan-keputusan. Juga memutuskan untuk tak memutuskan itu pun adalah sebuah keputusan. Sejak dari Bandung 2 tim yang saya dampingi memilih persiapan yang mereka anggap matang, tetapi setelah melihat antusias peserta lain yang mempersiapkan tetekbengek hiasan lebih mewah, kami pun jiper. Kami pun harus melanjutkan perjuangan.
Soal penilaian itu adalah rahasia dan ketentuan juri dan panitia karena tepat pukul 10.00 WITA, seluruh peserta sudah berada di booth masing-masing. Para juri yang berasal dari akademisi terkenal, Prof. Dr. Goib Wiranto, Ketua Pusat Riset Elektronika di Badan Riset dan Inovasi Nasional dan Dr Indrawati, Direktur Utama di SEAMEO QITEP, Sciene bersama panitia mengujungi booth-booth peserta untuk menguji seberapa hebatkah para peserta ISTEC 2026.
Mari kita berkenalan dengan 2 tim dari SMA EGS Bandung.
Tim Piezoneoza beranggotakan Hamuza Java Ramadhan dan Athaya Neobi Kenji, siswa kelas XI Natplus ini membuat inovasi dari sumber pijakan Piezoelektrik menjadi energi listrik. Kedua pemuda yang pemalu, pendiam, dan tangguh ini ternyata dapat menciptakan inovasi yang dapat berkelanjutan di masa depan. Perlu kegigihan dan dedikasi untuk melakukan riset dan percobaan ini.
Perjalanan mereka tentu tidaklah instan. Di balik sifat pendiamnya, Hamuza dan Athaya menghabiskan waktu berjam-jam setelah jam sekolah usai untuk melakukan trial and error. Berkali-kali mereka menghadapi kegagalan teknis. Mulai dari tegangan listrik yang terlalu kecil, sirkuit yang kurang stabil, hingga tantangan dalam mendesain papan pijakan yang cukup kokoh tetapi tetap sensitif terhadap tekanan.
Namun, alih-alih menyerah, setiap hambatan justru mereka hadapi dengan diskusi yang tenang namun tajam. Karakter tangguh yang mereka miliki menjadi motor penggerak utama; ketika sirkuit gagal berfungsi, mereka membongkarnya kembali dengan sabar, mencari tahu letak kesalahan, dan memperbaikinya demi persentase efisiensi daya yang lebih baik.
Ide inovatif ini bermula dari pengamatan sederhana terhadap ramainya koridor dan area tangga sekolah setiap harinya. Hamuza dan Athaya melihat potensi besar yang terbuang dari ribuan langkah kaki yang berlalu-lalang. Dengan memanfaatkan komponen sensor piezoelektrik, mereka merancang sebuah sistem Piezoelectric Footsteeps.
Tim Meet Science berangotakan 3 dara cantik, Alya Azizah Mahera, Fedjrina D.E, dan Steffany A.D, membuat inovasi masker wajah dengan bahan natural dari beras. Ide brilian ini lahir dari pengamatan mereka terhadap tren perawatan kulit generasi muda yang kian meningkat. Di tengah gempuran produk kecantikan modern yang sering kali mengandung bahan kimia sintetis, Hera, Dara, dan Steffany melihat peluang besar untuk kembali ke bahan organik. Beras, yang secara turun-temurun dikenal kaya akan gamma-oryzanol, vitamin B, dan antioksidan untuk mencerahkan serta menjaga elastisitas kulit, dipilih sebagai bintang utama dalam riset mereka.
Di bawah bimbingan intensif dari Miss Rina Agustina, S.Pd., Gr., ketiga dara ini tidak hanya sekadar membuat masker biasa, melainkan berusaha mengubah bahan pangan pokok harian menjadi sebuah produk perawatan wajah yang bernilai estetika tinggi, higienis, dan berbasis ilmiah. Hera, Dara, dan Steffany telah membuktikan bahwa kepedulian terhadap perawatan diri dapat disalurkan melalui jalur ilmiah yang bermanfaat. Melalui dedikasi, kreativitas, dan bimbingan yang tepat, mereka siap membawa inovasi kosmetik alami ini ke panggung yang lebih luas, sekaligus menginspirasi remaja lainnya untuk berani mengeksplorasi potensi lokal di sekitar mereka.
Ada 3 kategori Award Winners di ISTEC 2026, yaitu Applied Technology, Technical and Engineering, dan Natural and Humanity Science.
Hasil adalah nilai dari sebuah usaha dan tindakan. Begitu seorang penulis ini akan mengakhiri narasi penutup informasi ini. Bagi para inovator muda ini, produk akhir yang berhasil mereka ciptakan bukanlah sebuah titik henti, melainkan sebuah bukti konkret bahwa sebuah gagasan besar tidak akan pernah mati selama dipupuk dengan ketekunan.
Dari hentakan langkah kaki di lorong sekolah yang diubah menjadi daya listrik oleh Tim Piezoneoza berhasil mendapatkan Gold Medal pada kategori Applied Technology, dan butiran beras yang disulap menjadi produk kosmetik organik penunjang rasa percaya diri oleh Tim Meet Science, berhasil mendapatkan Broze Medal. Sebenarnya kedua tim sedang menyaksikan sebuah pembuktian. Mereka menunjukkan bahwa usia muda sama sekali bukan batasan untuk berpikir global dan bertindak secara lokal.
Setiap kegagalan sirkuit yang sempat dihadapi Hamuza dan Athaya, serta setiap eksperimen formula yang sempat kurang sempurna di laboratorium oleh Hera, Dara, dan Steffany, adalah inventasi nilai yang kini mereka petik. Di balik dinamika tersebut, kehadiran sosok guru pembimbing seperti Miss Rina Agustina dan Sir Hadi Subari menjadi lentera yang memastikan api semangat dan arah riset mereka tetap menyala pada jalurnya.
Penulis : Hadi Subari, S.ST., Gr.
Kontributor foto : Koleksi Tim ISTEC 2026.